Skip to main content

Every Coffee Has It's Own Story

Our Coffee Philosophy


Why do we choose the product name "Punakawan", which includes Semar, Gareng, Petruk, and Bagong for our products?

Because we sell products that have local contents, namely "Our Culture".
Every coffee is made from the characters of Punakawan (Semar, Gareng Petruk, Bagong).

Punakawan is a natuve figure of Javanese puppet theater. These figures represent a variety of human traits or characters on this earth.

Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, and Bagong are very well-known puppet figures even though the younger generation does not know much now. This shows the fading of the nation's culture amid the progress of the era and globalization. The clowns of clowns have their own character that should be a character learning model for living our lives if we understand it. Punakawan has its own form which describes the characters. The following will be briefly described the characters of Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, and Bagong.
SEMAR

Semar Badranaya. Semar's shape is vague and its face is pale. The character symbolized by semar form is simplicity, honesty, loving others, being humble, not too sad when experiencing difficulties, and not too happy when experiencing happiness (Achmad, 2012). Simplicity is very difficult to find in the present, many people live the main purpose is material, the more material is obtained or the more rich the more they feel their life is successful and happy. But the measure of happiness is not always determined by matter, simplicity in living life takes precedence. With simplicity we can feel sharing with others, we can feel the pleasure God has given us, with simplicity being able to make us not always live with the demands of more than what is now materially obtained and not to leave the world's material when the time comes to die (Yuwanto , 2012). Semar in puppet is a reference for knights to ask for advice and become respected figures. But the character remains humble, not arrogant, honest, and still loving others can be an example of good character. Full of strength but not forgetting because of the strengths possessed. Semar figures remind us that when we experience sadness we will continue to grieve deeply, then we will never think that sadness will end, there is no effort to overcome sadness, so it is too late to realize that we have been crying for sadness for too long without doing anything . When experiencing happiness, we are so happy that we are not vigilant or forget that someday we will experience hardship, and we do not prepare ourselves to face hardship so that when we experience difficulties we feel that we are the most difficult person, and experience bad luck.

GARENG
Nala Gareng. Nala Gareng is a figure of clowns who has incomplete body parts. Nala Gareng has leg defects, hand and eye defects. The character symbolized as foot defects illustrates that humans must be careful in living their lives. Hand that defects describes humans can try but God determines the end result. Defective eyes show humans must understand the reality of life (Achmad, 2012). Overall it can be concluded that Nala Gareng symbolizes the character of life concerned in living life both happy and sad, and always careful in behaving.

PETRUK Petruk Kanthong Bolong. The petruk figure is depicted in a long form which symbolizes thinking must be long. The name Kanthong Bolong shows deep patience (Achmad, 2012). In living life, people must think long (not easily) and be patient. If you don't think long, you will usually experience regret at the end. The concept of cognitive psychology explains that when experiencing problems, humans will make a decision to solve the problem. When thinking long is illustrated by making various alternative solutions to problems by calculating the advantages and disadvantages. With the existence of alternative solutions to human problems can make the right decisions (Yuwanto, 2012). Patience, illustrates the acceptance of what God has outlined after humans try, not just surrender to accept without effort. The term Javanese nerimo ing pandum often means that resignation accepts without effort. This meaning is wrong, nerimo ing pandum means to accept whatever the results of the efforts that have been made because humans can only try and pray but God determines the end.
BAGONG

The shape is similar to semar but dark black so it is called semar shadow. The character symbolized by the form of bagong is that humans must be simple, patient, and not too impressed with life in the world (Achmad, 2012). The deep meaning of Bagong's character is not too impressed with the life of the world. Today, human life, including in Indonesia, has shifted from the life of collectivism and relationism to individualism which is very materialistic. Life of the world with wealth and position is the main target to be achieved. Bagong's character can be a model that the life of the world is not eternal. Humans must always learn from their shadow which means that humans must always introspect themselves with their own shortcomings or ugliness to improve better behavior. It's not always seeing the ugliness of other people without seeing their own shortcomings so that they become arrogant.

Mengapa kami memilih nama produk "punakawan" yang meliputi semar, gareng, petruk, dan bagong untuk produk kami? Karena kami menjual produk yang bermuatan lokal yaitu kebudayaan kami.

Setiap kopi tercipta dari karakter-karakter punakawan (Semar, Gareng Petruk, Bagong)

Punakawan adalah tokoh asli pewayangan jawa. tokoh-tokoh ini mewakili berbagai macam sifat atau karakter manusia di muka bumi ini.

Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong merupakan tokoh pewayangan yang sangat terkenal meskipun generasi muda sekarang tidak banyak mengenalnya. Hal ini menunjukkan lunturnya budaya bangsa di tengah kemajuan jaman dan globalisasi. Tokoh-tokoh punakawan memiliki karakter tersendiri yang seharusnya dapat menjadi model belajar karakter bagi dalam menjalani kehidupan kita bila memahaminya. Punakawan memiliki bentuk masing-masing yang menggambarkan karakter-karakter. Berikut akan diuraikan secara ringkas karakter Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong.



SEMAR
Semar Badranaya. Semar bentuknya samar-samar dan mukanya pucat. Karakter yang disimbolkan oleh wujud semar adalah kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika mengalami kebahagiaan (Achmad, 2012). Kesederhanaan sangat sulit ditemui di masa sekarang, banyak orang hidup tujuan utamanya adalah material, makin banyak material yang didapatkan atau makin kaya maka makin merasa hidupnya sukses dan bahagia. Namun ukuran kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh materi, kesederhanaan dalam menjalani hidup lebih diutamakan. Dengan kesederhanaan kita bisa merasakan berbagi dengan orang lain, kita bisa merasakan nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, dengan kesederhanaan mampu membuat kita tidak hidup selalu dengan tuntutan harus lebih dari yang sekarang didapatkan secara materi dan tidak berat meninggalkan materi dunia ketika tiba waktunya meninggal (Yuwanto, 2012). Semar dalam pewayangan menjadi rujukan para kesatria untuk meminta nasihat dan menjadi tokoh yang dihormati. Namun karakter tetap rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi sesama dapat menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki. Tokoh semar mengingatkan bahwa ketika kita mengalami kesedihan kita akan terus bersedih secara mendalam, maka kita tidak akan pernah berpikiran bahwa kesedihan akan berakhir, tidak ada usaha untuk mengatasi kesedihan, sehingga akhirnya terlambat untuk menyadari bahwa kita sudah terlalu lama menangisi kesedihan tanpa melakukan apa-apa. Saat mengalami kebahagiaan, kita sangat bahagia sehingga tidak waspada atau lupa bahwa suatu saat kita akan mengalami kesusahan, dan kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan sehingga saat mengalami kesusahan kita merasa bahwa menjadi orang paling susah, dan mengalami nasib buruk.
GARENG

Nala Gareng. Nala gareng merupakan tokoh punakawan yang memiliki ketidaklengkapan bagian tubuh. Nala gareng mengalami cacat kaki, cacat tangan, dan mata. Karakter yang disimbolkan adalah cacat kaki menggambarkan manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Tangan yang cacat menggambarkan manusia bisa berusaha tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Mata yang cacat menunjukkan manusia harus memahami realitas kehidupan (Achmad, 2012). Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Nala Gareng menyimbolkan karakter hidup prihatin dalam menjalani kehidupan baik senang maupun duka, dan selalu berhati-hati dalam berperilaku.
PETRUK

Petruk Kanthong Bolong. Tokoh petruk digambarkan dengan bentuk panjang yang menyimbolkan pemikiran harus panjang. Nama Kanthong Bolong menunjukkan kesabaran yang dalam (Achmad, 2012). Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Konsep psikologi kognitif menjelaskan bahwa saat mengalami masalah, manusia akan membuat suatu keputusan untuk penyelesaian masalah. Saat berpikir panjang digambarkan dengan membuat berbagai alternatif penyelesaian masalah dengan perhitungan kelebihan dan kekurangannya. Dengan adanya alternatif penyelesaian masalah manusia bisa mengambil keputusan yang tepat (Yuwanto, 2012). Sabar, menggambarkan penerimaan terhadap apa yang sudah digariskan Tuhan setelah manusia berusaha, bukan hanya sekadar pasrah menerima tanpa usaha. Istilah jawa nerimo ing pandum sering diartikan bahwa pasrah menerima tanpa usaha. Arti ini keliru, nerimo ing pandum artinya menerima apapun hasil dari usaha yang telah dilakukan karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi Tuhan yang menentukan akhirnya.


BAGONG Bagong. Bentuknya mirip semar tetapi hitam gelap sehingga disebut sebagai bayangan semar. Karakter yang disimbolkan dari bentuk bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia (Achmad, 2012). Makna mendalam dari karakter Bagong adalah tidak terlalu kagum dengan kehidupan dunia. Saat ini kehidupan manusia termasuk di Indonesia mulai bergeser dari kehidupan kolektivisme dan relationisme menjadi individualism yang sangat khas materialismenya. Kehidupan dunia dengan harta dan jabatan menjadi target utama yang harus dicapai. Karakter Bagong dapat menjadi model bahwa kehidupan dunia tidak abadi. Manusia harus selalu belajar dari bayangannya yang memiliki makna manusia harus selalu introspeksi diri dengan kekurangan atau kejelekan diri sendiri untuk memperbaiki perilaku yang lebih baik. Bukannya selalu melihat kejelekan orang lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri sehingga diri menjadi sombong.

(sumber: Listyo Yuwanto Fakultas Psikologi Universitas Surabaya)



Comments

Popular posts from this blog

CSR Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility

Dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter pemuda Indonesia sejak dini, kami mensupport kegiatan parenting (edukasi pola asuh anak untuk orang tua) bekerjasama dengan Little Bee Parenting Community (Instagram: littlebeeparenting).